BANYUWANGI – Tradisi Petik Laut Muncar kembali berlangsung semarak dan menjadi daya tarik ribuan masyarakat di pesisir selatan Banyuwangi. Ritual adat yang digelar setiap 15 Suro itu tidak hanya menjadi wujud rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil laut yang melimpah, tetapi juga memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kesuksesan penyelenggaraan tradisi tahunan tersebut mendapat apresiasi dari anggota Komisi II DPRD Banyuwangi, Desi Prakasiwi. Menurutnya, kelancaran seluruh rangkaian kegiatan tidak lepas dari kekompakan masyarakat, panitia, nelayan, tokoh adat, hingga pemerintah yang bersama-sama menjaga tradisi tetap lestari.
"Semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat Muncar patut diapresiasi. Kekompakan seluruh elemen masyarakat menjadi modal utama sehingga tradisi Petik Laut dapat berlangsung aman, tertib, dan meriah setiap tahunnya," ujar Desi.
Baca Juga : Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara Dukung Langkah Tegas BNNK Berantas Narkoba
Politisi yang membidangi sektor perekonomian itu menilai Petik Laut kini telah berkembang menjadi agenda budaya yang memiliki nilai strategis bagi Banyuwangi. Selain mempertahankan tradisi leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi simbol persatuan masyarakat pesisir yang mampu mempererat kebersamaan di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, budaya yang terus dirawat oleh masyarakat Muncar menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan masih terjaga dengan baik.
Desi juga menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan dari penyelenggaraan Petik Laut. Ribuan pengunjung yang memadati kawasan Muncar selama rangkaian acara berlangsung memberikan efek positif terhadap perputaran ekonomi masyarakat.
Pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, penjual suvenir, penyedia jasa parkir, hingga sektor transportasi merasakan peningkatan pendapatan seiring membludaknya wisatawan yang datang menyaksikan prosesi budaya tersebut.
"Tradisi seperti ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Kehadiran wisatawan mampu menggerakkan usaha kecil dan meningkatkan pendapatan warga," katanya.
Ia menambahkan, Petik Laut menjadi contoh bagaimana pelestarian budaya mampu memberikan manfaat ganda. Di satu sisi menjaga identitas dan warisan budaya masyarakat pesisir, di sisi lain menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata.
Selain prosesi utama berupa larung sesaji di tengah laut, perayaan juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni tradisional, parade budaya, serta atraksi kesenian lokal yang menjadi hiburan sekaligus daya tarik bagi para pengunjung.
Rangkaian acara tersebut semakin memperkuat posisi Petik Laut sebagai salah satu agenda budaya yang memiliki nilai wisata tinggi di Banyuwangi. Kehadiran wisatawan dari berbagai daerah turut memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Di balik kemeriahan itu, ritual Petik Laut tetap mempertahankan makna spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun. Larung sesaji menjadi simbol ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diperoleh para nelayan sekaligus doa agar mereka senantiasa diberikan keselamatan, hasil tangkapan yang melimpah, dan keberkahan saat melaut.
Desi berharap tradisi tersebut terus mendapat perhatian dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku wisata diperlukan agar Petik Laut semakin berkembang sebagai agenda budaya unggulan Banyuwangi.
"DPRD mendukung upaya pelestarian tradisi Petik Laut sebagai bagian dari identitas budaya Banyuwangi. Tradisi ini harus terus dijaga karena bukan hanya memperkuat jati diri masyarakat pesisir, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya. (*)
