DPRD Banyuwangi Apresiasi Layanan Baru RSH, Dorong Jadi Pusat Rujukan

$rows[judul]

Banyuwangi - Penguatan layanan Rumah Sakit Hewan (RSH) Banyuwangi mendapat apresiasi dari DPRD Banyuwangi. Kehadiran Unit Layanan Khusus Penyakit Dalam dan Bedah dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas penanganan kesehatan hewan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan veteriner yang lebih lengkap.

Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara mengatakan, penambahan layanan spesifik tersebut merupakan perkembangan positif bagi sektor kesehatan hewan di Banyuwangi.

Menurutnya, keberadaan fasilitas yang mampu menangani penyakit dalam hingga tindakan bedah akan memberikan pilihan layanan yang lebih memadai bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan hewan secara khusus.


Baca Juga : DPRD Banyuwangi Dihadapkan pada Perubahan Besar Postur APBD 2026

“Ini langkah yang baik untuk kesehatan hewan di Banyuwangi. Dengan adanya layanan yang lebih spesifik, masyarakat tidak harus mencari penanganan ke luar daerah,” kata I Made.

Unit layanan tersebut berada di kompleks RSH Banyuwangi, Jalan RA Kartini Nomor 56. Pengembangannya merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga.

Fasilitas baru itu tidak hanya menangani kasus penyakit dalam dan bedah. Terdapat lima bidang layanan yang disiapkan, yakni penyakit dalam, bedah, reproduksi, nutrisi, serta patologi anatomi.

Penguatan tersebut sekaligus dilengkapi peralatan penunjang pemeriksaan. Di antaranya hematology analyzer, pemeriksaan kimia darah, ultrasonografi (USG), X-Ray, pemeriksaan histopatologi hingga pemeriksaan parasit.

I Made menilai kelengkapan fasilitas dan tenaga profesional menjadi faktor penting agar RSH Banyuwangi tidak sekadar menjadi tempat pelayanan dasar, tetapi mampu berkembang sebagai fasilitas rujukan kesehatan hewan.

“Yang paling penting bukan hanya gedung dan peralatannya, tetapi bagaimana layanan ini benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat dan terus dikembangkan,” ujarnya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani sebelumnya mengatakan, pengembangan unit layanan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan hewan.

Menurut Ipuk, posisi Banyuwangi yang memiliki kawasan konservasi dengan keanekaragaman fauna turut membutuhkan dukungan fasilitas kesehatan hewan yang memadai.

Banyuwangi dikelilingi tiga taman nasional. Karena itu, keberadaan layanan veteriner dengan kemampuan penanganan lebih spesifik dinilai dapat membantu proses penanganan satwa apabila terjadi persoalan kesehatan maupun kasus tertentu di kawasan konservasi.

“Ini akan menunjang kinerja BKSDA dan teman-teman taman nasional terkait penanganan fauna,” kata Ipuk saat meresmikan Unit Layanan Khusus Penyakit Dalam dan Bedah dalam rangkaian Peringatan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190, Kamis (24/9/2026).

Dekan FIKKIA Universitas Airlangga Dr. Rahadian Indarto Susilo, Sp.BS (K) menjelaskan, unit tersebut diproyeksikan menangani berbagai kasus yang membutuhkan keahlian khusus.

Beberapa di antaranya operasi kelahiran pada hewan yang mengalami kesulitan melahirkan secara normal, tindakan terhadap tumor, hingga penanganan kasus patah tulang.

Dari sisi sumber daya manusia, layanan tersebut akan diperkuat sedikitnya 10 dokter hewan dengan kompetensi berbeda. Keahlian yang disiapkan mencakup bedah dan penyakit dalam veteriner, reproduksi, nutrisi, patologi anatomi, parasitologi, serta kesehatan masyarakat veteriner.

Penguatan layanan RSH juga berjalan beriringan dengan pelayanan kesehatan hewan secara langsung kepada masyarakat.

Dalam rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan, pemerintah memberikan sejumlah layanan gratis bagi hewan peliharaan, mulai pemeriksaan kesehatan, pemberian vitamin dan obat cacing hingga vaksinasi rabies.

Sebanyak 400 dosis vaksin rabies disiapkan melalui Gerakan Obat Cacing untuk Kucing dan Anjing Terpadu dan Vaksinasi Rabies (GOCAT+R).

Sebanyak 250 dosis dialokasikan untuk pelayanan di RSH Banyuwangi, sementara 150 dosis lainnya didistribusikan ke empat Puskeswan, masing-masing di Blimbingsari, Gambiran, Genteng dan Tegaldlimo.

DPRD Banyuwangi berharap penguatan fasilitas tersebut diikuti peningkatan kualitas pelayanan secara berkelanjutan. Dengan demikian, RSH Banyuwangi dapat menjadi salah satu fasilitas rujukan yang mampu menjawab kebutuhan kesehatan hewan masyarakat sekaligus mendukung upaya konservasi fauna di wilayah Banyuwangi.