BANYUWANGI – Dinas Pekerjaan Umum Pengairan (PU Pengairan) Kabupaten Banyuwangi memperluas implementasi Program Kerja Sama Operasi (KSO) pengelolaan irigasi pada tahun 2025. Sebanyak lima daerah irigasi strategis akan dikelola secara kolaboratif antara pemerintah dan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), menandai pergeseran paradigma menuju pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas.
Lima lokasi yang menjadi sasaran program meliputi Daerah Irigasi Jalen 2 di Desa Setail, Tugung 3 di Kecamatan Sempu, Paeloan di Desa Sumberbaru (Singojuruh), Daerah Irigasi Sempu di Desa Genteng Kulon (Genteng), serta irigasi Sumber Kempit di Desa Bumiharjo (Glenmore).
Plt. Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Riza Al Fachroby, menjelaskan bahwa esensi KSO adalah mentransfer tanggung jawab operasi dan pemeliharaan irigasi kepada petani yang memahami langsung kondisi di lapangan.
Baca Juga : Program Padat Karya Irigasi Banyuwangi Dorong Ekonomi Warga dan Produktivitas Sawah
"Melalui KSO, kami membangun kemandirian HIPPA dalam mengelola infrastruktur irigasi. Petani tidak hanya sebagai pengguna, tetapi menjadi pelaku aktif yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan sistem," jelas Riza.
Program ini diawali dengan serangkaian bimbingan teknis intensif yang mencakup aspek teknis irigasi, administrasi, dan manajemen kelembagaan. Para peserta kemudian menyusun Profil Sosio Ekonomi Teknik dan Kelembagaan (PSETK) sebagai dasar perencanaan pemeliharaan yang tepat sasaran.
"PSETK menjadi alat diagnostik yang akurat untuk mengidentifikasi kebutuhan riil setiap daerah irigasi, memungkinkan intervensi yang lebih efektif dan efisien," tambah Riza.
Implementasi KSO diharapkan mampu mengoptimalkan distribusi air irigasi, mengurangi konflik antar petani, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas pertanian. Program ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan pangan melalui pemberdayaan petani.
Sebagai garda terdepan dalam pengelolaan irigasi, HIPPA yang telah mengikuti program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah irigasi lainnya. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari membaiknya kondisi infrastruktur, tetapi juga dari peningkatan kapasitas kelembagaan petani.
"Dengan pengelolaan yang profesional dan mandiri, diharapkan dapat tercipta sistem irigasi yang berkelanjutan untuk mendukung kesejahteraan petani Banyuwangi," pungkas Riza.
Ekspansi Program KSO ini merepresentasikan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam membangun tata kelola irigasi yang partisipatif, di mana petani ditempatkan sebagai subjek utama dalam pengelolaan sumber daya air untuk pertanian. (*)
